Jawara Indonesian Movie Award (IMA) 2009 ‘Laskar Pelangi’

Jakarta – Indonesia Movie Award (IMA) 2009 kembali digelar. Kali ini yang menjadi jawaranya adalah film ‘Laskar Pelangi’. Laskar pelangi dinobatkan sebagai film terbaik.

Tak hanya itu, film arahan sutradara berbakat Riri Riza dan Mira lesmana itu juga berhasil mengantarkan beberapa nama untuk mendapat piala Layar Emas IMA.

Zulfani pemeran Ikal kecil dalam film ‘Laskar Pelangi’ dinobatkan sebagai Pendatang baru terfavorit. Sedangkan Pemeran Utama Pria dan Wanita terbaik adalah Cut Mini yang memerankan Bu Mus, serta Ikranegara yang memerankan Pak Harfan, sang kepala sekolah yang bijak. Tak hanya itu, Nidji sang pengisi soundtrack pun dinobatkan sebagai soundtrack film terbaik 2009 dengan lagu ‘Laskar Pelangi’nya.

Rasanya tak berlebihan jika film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata itu dianggap sebagai film terbaik. Film yang menggambarkan tentang anak-anak yang serba kekurangan namun berani bermimpi telah memberikan banyak inspirasi bagi rakyat Indonesia.

Bos Microsoft: Pusat Penelitian Microsoft di Indonesia? Bisa!

Jakarta – Indonesia dikatakan mempunyai prospek untuk dipilih menjadi pusat penelitian Microsoft selanjutnya. Pasalnya, negara kita dinilai telah memenuhi salah satu persyaratan yang dibutuhkan.

Craig Mundie, Chief Research & Strategy Officer Microsoft Corporation mengatakan, sama seperti beberapa negara lainnya, Indonesia mempunyai keuntungan dalam hal jumlah penduduk yang besar. Sumber daya manusia inilah yang seharusnya menjadi faktor penting bagi suatu negara untuk maju.

“Namun, untuk membuat sebuah pusat penelitian di suatu negara itu butuh konvergensi dari beberapa faktor. Seperti terkait skill dan mobilitas penduduknya, jadi tak hanya jumlah penduduk saja,” tukas Mundie, di acara jumpa pers The Government Leaders Forum di Hotel Shangrila Jakarta, Kamis (8/5/2008).

Beberapa negara di Asia yang telah dijadikan sebagai laboratorium pengembangan teknologi Microsoft ini adalah China dan India. Dikatakan Mundie, untuk kedua negara tersebut saja perlu dimulai secara bertahap. “Yakni berawal dengan proyek-proyek kecil. Dimulai dengan berjalan dulu, baru berlari,” imbuhnya.

Sementara untuk Indonesia, diakui Mundie, peluang itu masih tetap terbuka lebar. “Ini area yang masih bisa terus digarap, namun butuh waktu. Dalam jangka panjang, hal ini (pembangunan pusat penelitian-red.) bisa saja berjalan,” tutupnya.